Andalan

Jalan Panjang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Melalui Pendataan di Tingkat Desa

Pertemuan Kepala Desa Pandanarum, Masudin dengan warga penggiat lingkungan yang beberapa di antaranya ialah eks PMI

Selama dua tahun bekerja di Taiwan, Wanti (42), eks Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Blitar, Jawa Timur tidak diperkenankan menggunakan ponsel oleh majikannya. Ia juga tidak diizinkan bertemu atau sekadar bertegur sapa dengan PMI lain. Direkrut untuk menjadi perawat lansia, Wanti justru dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga. Beban kerja yang harus dilakoni jauh lebih berat dibanding seandainya ia dipekerjakan sesuai prosedur perekrutan.

Kontrak kerja terlanjur ditandatangani, tak ada pilihan lain kecuali melanjutkan bekerja sampai masa kontrak habis, atau yang bersangkutan hendak membayar denda kepada agen yang memberangkatkannya. Meskipun beban kerja dirasa terlalu berat, Wanti tidak punya pilihan lain kecuali tetap bekerja untuk menghasilkan uang.

Mayoritas eks-PMI asal Desa Pandanarum mengaku, motif utama yang mendorong mereka memilih bekerja ke luar negeri ialah permasalahan ekonomi keluarga. Lima orang eks-PMI menceritakan latar belakang keluarganya yang memiliki kondisi ekonomi pas-pasan. Selain ingin membantu mengubah nasib perekonomian keluarga, mereka juga memiliki tekad kuat menjadi lebih baik secara ekonomi dibanding orang tuanya.

“Di luar gajinya lebih gede, dibanding di sini (Indonesia). Pekerjaannya sama-sama jadi ART, itu lebih besar (gajinya) kalau di luar,” ungkap Wanti yang siang (3/10/2020) itu mengenakan setelah kaos dan rok.

Bekerja di luar negeri dengan iming-iming gaji yang lebih besar daripada bekerja di desa membuat mereka mantap memilih jalan sebagai PMI di negeri orang. Wanti menjelaskan, gaji PMI di Taiwan sekitar Rp7.000.000. Angka itu terbilang fantastis bila dibandingkan dengan bekerja di dalam negeri dengan jenis pekerjaan serupa.

Ketua Komunitas Pekerja Migran Indonesia (KOPI) Pandanarum, Sri Amin (46) sempat menceritakan perjalanan hidupnya sebelum memutuskan bekerja di sebuah pabrik di Korea Selatan. Meskipun tidak lahir dari keluarga yang kekurangan, kondisi ekonomi orang tuanya juga tidak bisa disebut lebih. Cukup untuk menghidupi keluarga dengan tiga orang anak, begitu ia mendefinisikannya.

Sri Amin anak kedua dari tiga bersaudara. Saat lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), guru Pendidikan Agama di sekolah memberitahu mengenai lowongan pekerjaan di Kantor Pemerintah Kota Tulungagung. Syaratnya, ia harus membayar Rp3.000.000 untuk masuk menjadi pegawai.

Orang tua Amin menyatakan jika memang itu pilihan sang anak, mereka bisa membantu dengan cara menjual rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal keluarga. Perbincangan itu membulatkan tekad Sri Amin tidak mendaftarkan diri sebagai pegawai di Kantor Pemkot Tulungagung.

Beberapa waktu kemudian, ia mendengar iklan lowongan pekerjaan di Korea Selatan yang disiarkan sebuah radio lokal. Setelah menyiapkan seluruh berkas yang diperlukan sebagai syarat mendaftar, Sri Amin mengikuti ujian seleksi di Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemenaker RI). Nasib baik memihaknya, tahun 1995 ia berangkat ke Korea Selatan dan bekerja di industri pembuat benang.

Lima tahun kemudian ia sempat pulang ke kampung halamannya di Desa Sumber Glagah, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Di rumah selama dua tahun, ia memutuskan kembali lagi ke Korea Selatan. Kali ini ia bekerja di pabrik kulkas.

Senada, Wanti dan Suhartatik (48) yang ditemui terpisah juga menceritakan bahwasanya kondisi ekonomi keluarga dan harapan hidup lebih sejahtera yang mendorong keduanya memilih bekerja ke luar negeri. Sebagaimana Sri Amin, Wanti mengadu nasib sebagai PMI berbekal ijazah SMK. Menjelang akhir tahun 90-an, Wanti berhasil pergi ke Malaysia setelah membayar Rp2.000.000 kepada agen (sebutan akrab PJTKI di kalangan PMI) yang memfasilitasi keberangkatannya.

Alarm bagi Pemerintah

Kasus yang dialami Wanti seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah, baik di tingkat desa hingga nasional. Pasalnya, menurut penuturan Edi Purwanto, Project Officer Infest (Institute of Education Development, Social, Religious and Cultural Studies) di Blitar, ketiadaan data mengenai PMI di tingkat desa berdampak pada terjadinya kasus-kasus yang tidak diinginkan sebagaimana yang dialami Wanti.

“Sekarang ini banyak desa yang tidak punya data. Ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya terjadi kekerasan atau apa, karena desa tidak punya data, jadi tidak bisa menolong,” ungkap Edi saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat, 16 Oktober 2020.

Keberadaan data valid mengenai PMI akan memudahkan Pemerintah Desa dalam memberikan perlindungan kepada warganya. Data yang menunjukkan detail proses keberangkatan PMI mulai dari agen yang memberangkatkan, waktu keberangkatan, negara tujuan akan membantu Pemdes memantau kondisi warganya di luar negeri. Termasuk jika suatu saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti penganiayaan yang dilakukan majikan, beban kerja yang tidak sesuai kontrak, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, Infest Yogyakarta mendorong desa-desa binaannya di Kabupaten Ponorogo dan Blitar untuk melakukan pendataan PMI. Sejak tahun 2018 lalu, Infest bersama dengan Bupati, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, serta Dinas Ketenagakerjaan di dua kabupaten tersebut menandatangi MoU terkait pemberdayaan PMI. Diketahui, Kabupaten Ponorogo dan Blitar merupakan dua kantong PMI terbesar di Provinsi Jawa Timur. Awal Oktober 2020, saya berkesempatan mendatangi salah satu desa binaan Infest, yakni Desa Pandanarum.

Dari Stasiun Blitar, Desa Pandanarum di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota hanya bisa dicapai dengan menggunakan jasa ojek online Grab. Sementara, penyedia jasa ojek online asal Indonesia Gojek belum masuk wilayah setempat. Butuh waktu tempuh sekitar 30 menit sebelum sampai di kediaman Ketua KOPI Pandanarum Sri Amin di Dusun Klampok RT/RW 05/02, Desa Pandanarum, Kabupaten Blitar pada Jumat (2/10/2020). Menjelang bedug magrib itu, Amin, begitu ia akrab disapa, sudah menunggu di pinggir jalan raya depan rumahnya.

Di teras rumahnya, Amin memberi gambaran sekilas tentang organisasi yang diketuainya, mulai dari kegiatan yang sudah dilakukan, apa yang sedang direncakanan, program yang gagal dilakukan, hingga bagaimana sinergi antara KOPI Pandanarum dan Pemerintah Desa (Pemdes) setempat.

Program kerja yang gagal dilakukan KOPI Pandanarum belum lama ini yakni pendataan PMI. Sejak terbentuk pada tahun 2018, KOPI Pandanarum ingin memiliki data valid sebagai dasar perlindungan bagi para PMI.

KOPI Pandanarum bersama dengan Pemdes setempat dan jajaran di bawahnya yang terdiri dari Kepala Dusun, Ketua Rukun Warga (RW), dan Ketua Rukun Tetangga (RT) sempat membahas teknis pelaksanaan pendataan tersebut, namun belum sempat dilaksanakan lantaran merebaknya pandemi Covid-19 di Indonesia. Buntutnya, sampai sekarang belum ada data mengenai warga desa Pandanarum yang bekerja di luar negeri sebagai PMI.

Kondisi Pemerintah Desa

Ditemui di kediamannya di Dusun Sentul RT/RW 03/01, Kepala Desa Pandanarum Masudin (52) membenarkan bahwasanya Pemdes Pandanarum belum memiliki data spesifik tentang warga desa yang menjadi PMI. Termasuk data yang menunjukkan bagaimana kehidupan mantan PMI yang sudah kembali ke desa.

“Lagi-lagi kalau kita bicara spesifik belum ada. Eks-TKI (PMI) ada juga yang jadi BPD (Badan Permusyawaratan Desa), satu orang. Lainnya punya usaha tapi ya mandiri-mandiri. Kita nggak punya data, di Pandararum siapa yang ke luar negeri, berapa itu kita tidak punya,” jelas Kepala Desa yang sudah menjabat dua periode itu.

Masudin menjelaskan, setiap hari kantor desa tidak pernah sepi dari pelayanan dikarenakan jumlah penduduknya yang banyak. Sementara jumlah perangkat desa relatif sama dengan desa berpenduduk sedikit. Berdasarkan daftar sumber daya manusia per Februari 2020, jumlah penduduk Desa Pandanarum sebanyak 8.372 jiwa. Selain itu, lanjut Masudin, kendala pendataan PMI di Pandanarum juga dikarenakan banyaknya tambahan pekerjaan yang dibebankan pemerintah kabupaten kepada pemerintah desa.

“Kita nggak bisa berpikir ideal. Ketika kemarin Infest ada jajak pendapat soal gimana pelayanan yang baik, iya saya akui, tapi itu tidak bisa dijalankan di sini. Jangankan kok pelayanan by WA yang dari rumah bisa, lurah ngerti seperti itu, tapi di sini belum bisa dilaksanakan,” ujar Kades Masudin sembari membenarkan posisi duduknya.

Terkait pendataan PMI misalnya, lanjut Masudin, tidak mungkin bisa dilakukan dengan sistem relawan. Katakanlah memilih 10 relawan untuk menyelesaikan pendataan seluruh warga desa, sampai kapanpun tidak bisa berjalan. Berulang kali Kades Masudin menegaskan, bahwasanya ketiadaan biaya yang dialokasikan khusus untuk proses pendataan PMI berujung pada ketidakberhasilan program pendataan yang diharapkan.

Ia memberi contoh, mendayagunakan relawan dengan sistem multi-level, yakni relawan yang ditunjuk mencari relawan-relawan lain di lingkup yang lebih sempit juga tidak mungkin bisa dilakukan. Misalnya saja, mencari lima orang untuk mendata PMI di satu rukun tetangga (RT), kelima orang ini harus mendata dengan cara door to door alias dari rumah ke rumah, tanpa ada biaya lelah, sulit direalisasikan.

Dalam prosesnya, relawan tidak mungkin memerlukan waktu sebentar untuk mendata. Di desa dengan suasana ramah tamah yang kental, relawan tidak mungkin hanya datang untuk keperluan mendata, tapi juga perlu menciptakan topik-topik perbincangan lain.

Belum lagi, untuk bertemu orang saja susah karena beragam kesibukan warga desa. Selanjutnya saat mendata katakanlah  formulirnya bersifat terbuka alias tidak menyediakan pilihan-pilihan jawaban, relawan harus menuliskan keterangan yang diberikan orang yang bersangkutan.

Ditambah, lanjut Kades Masudin, sudah menjadi rahasia umum jika banyak warga yang merespons kegiataan pendataan dengan pertanyaan tentang bantuan apa yang akan mereka dapatkan. Ketika dijawab pendataan tersebut tidak ada kaitannya dengan program bantuan, sangat mungkin ada warga yang tidak suka lantas menjawab pertanyaan yang diajukan relawan selaku enumerator sesuka hatinya.

Di sisi lain, semangat yang dimiliki KOPI Pandanarum untuk melakukan pendataan PMI di desa setempat belum surut. Sejak tahun 2018, ketika pertama kali memberikan pendampingan bagi para eks-PMI di desa setempat, Infest mendorong KOPI Pandanarum dan Pemdes bersinergi menciptakan perlindungan bagi warganya yang menjadi PMI.

Ketua KOPI Pandarum Sri Amin menyadari betul, program pendataan PMI seperti yang digadang-gadang organisasinya dengan Infest memang susah dilakukan, namun bukan berarti tidak bisa terlaksana.

“Pendataan memang susah, menurut saya memang harus susah di awal. Baru kemudian ke depan, siapa yang dapat dipercaya diberi tanggung jawab mendata. Keluar masuknya orang kan tahu to. Namanya kepala dusun kan harus tahu. Kalau mau ke luar negeri memang pakai persetujuan keluarga dan Kades. Tapi selanjutnya, kalau tentang kematian, angka kelahiran ini kadus pasti tahu. Misalnya ada warganya yang kerja di luar negeri meninggal, atau melahirkan, kan tahu datanya,” ungkap Sri Amin saat kami berbincang santai di kursi sofa di ruang tamunya. Sehari setelah kami mendengar pernyataan Kades Masudin.

Sebelum pandemi Covid-19 merebak, para eks-PMI yang aktif di KOPI Pandanarum meminta tolong kepada Kades Masudin untuk membantu menyosialisasikan rencana pendataan PMI yang akan dilakukan oleh kawan-kawan KOPI kepada para kepala dusun. Kades Masudin mengakomodasi permintaan itu dengan mengundang tiga kepala dusun di Desa Pandanarum dan KOPI dalam sebuah pertemuan. Dalam pertemuan tersebut, Sri Amin meminta tolong supaya para kepala dusun memerintah para ketua RT  di lingkungannya untuk menyosialisasikan rencana pendataan PMI kepada warganya.

Menanggapi paparan Ketua KOPI itu, Kades Pandanarum mengajukan usulan terkait teknis pendataan. Caranya, KOPI melakukan pendataan bertepatan dengan momentum pelaksanaan Yasinan yang menjadi agenda rutin warga di setiap lingkungan rukun tetangga (RT).

Ketua KOPI Pandanarum itu menuturkan, jika kelak tidak ada bantuan dari pemerintah desa, para anggota KOPI akan bergerak secara sukarela untuk melakukan pendataan PMI di Desa Pandanarum. Sebagai perwakilan Infest yang mendampingi KOPI Pandanarum, Edi Purwanto juga terus mendorong desa itu memiliki data valid terkait PMI.

“Jika punya data, desa bisa ngasih penguatan-penguatan. Baik yang sudah pulang ke desa atau yang masih berada di lokasi. Paling sederhana ya misalnya memberikan perlindungan komunikasi antara pekerja migran dengan keluarganya,” terang Edi Purwanto.

Dari data tersebut, pemerintah desa juga bisa memberikan pendampingan khusus kepada keluarga termasuk anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja ke luar negeri. Kepada suami atau istri yang tinggal di rumah bisa diberi pendampingan atau pelatihan kewirausahaan, sementara terhadap anak-anak dilakukan pemantauan mengenai kebutuhan afeksi dan pendidikannya.

Selanjutnya, pendataan PMI di tingkat desa juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan sosial, misalnya membantu meringankan beban biaya warga desa yang sakit dan kurang mampu. Selain itu, para PMI di luar negeri yang kondisi keuangannya bagus, bisa memberi suntikan modal kepada para pemuda desa yang hendak memulai usaha. Lebih jauh, menurut Edi, keberadaan data valid mengenai PMI di tingkat desa juga bisa dijadikan sebagai salah satu acuan perencanaan pembangunan desa yang bersangkutan.

Artikel ini dikerjakan atas dukungan moril dan materiel dari Infest Yogyakarta.

Andalan

Cinta Kasih Antarumat Beragama di Indonesia Tak Lekang Dihantam Apa Saja

Kesatuan dan persatuan antar-umat beragama di Indonesia memang tampak begitu massif belakangan ini. Namun, jauh sebelum pandemi Covid-19 muncul, kecenderungan yang demikian sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Setiap tahun, umat Muslim yang tergabung dalam Banser alias pasukan keamanan Nahdlatul Ulama (NU) turut menyukseskan pelaksanaan Hari Raya Natal dengan berjaga di lingkungan gereja.

Sebaliknya, umat Muslim juga rutin menggelar salat Idul Fitri dan Idul Adha di sekitar Gereja Koinonia di kawasan Jatinegara, Jakarta. Di Solo, Jawa Tengah sebagian jemaah salat Idul Fitri di Masjid Al Hikmah juga menunaikan ibadah tahunan tersebut di area Gereja Kristen Jawa Joyodiningratan. Dua rumah ibadah berbeda agama itu letaknya persis berdampingan.

Setiap tahun, Gereja Katedral yang letaknya berseberangan dengan Masjid Istiqlal menyediakan lahan parkir untuk umat Muslim yang hendak melakukan salat Idul Fitri. Sementara itu, pihak Masjid Istiqlal juga menyediakan lahan parkir bagi umat Kristiani yang hendak melakukan ibadah Misa di Gereja Katedral. Terutama di hari-hari besar seperti Natal dan Paskah yang jumlah jemaatnya membludak dibanding hari-hari biasa.

Peristiwa-peristiwa di atas menunjukkan aplikasi sikap toleransi agama, kebangsaan, bahkan kemanusiaan. Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. dalam wawancaranya dengan Republika menyampaikan bahwasanya kerjasama dan saling bahu-membahu antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral menjadi perwujudan dari rasa kemanusiaan. Umat dari kedua agama berbeda mewujudkan toleransi sebagai aksi nyata dalam keberlangsungan hidup bermasyarakat. Toleransi tidak sekadar sebagai gagasan retoris yang digembar-gemborkan melalui kata-kata di acara seminar, melainkan telah jauh melampaui itu (republika.co.id, 25 Desember 2016).

Kekuatan Umat Beragama di Indonesia

Contoh-contoh yang telah dipaparkan di atas hanya sebagian kecil dari cerminan kerukunan hidup antar-umat beragama di Indonesia. Mantan Staf Khusus Wakil Presiden RI untuk Bidang Reformasi Birokrasi (2017-2019), Azyumardi Azra C.B.E. memberi gambaran menyejukkan mengenai umat beragama di Indonesia dalam buku terbarunya yang berjudul Relevansi Islam Wasathiyah: dari Melindungi Kampus hingga Mengaktualisasi Kesalehan  (Kompas, 2020). Azra melakukan analisis kesejarahan yang melatarbelakangi kuatnya kohesi sosial yang dalam hal ini berkaitan erat dengan sikap umat Muslim Indonesia sebagai mayoritas.

Saat konflik, kekerasan, dan perang terus meruyak di negara-negara Muslim di dunia Arab, Asia Selatan, Asia Barat, serta Afrika dibersamai dengan semakin kuatnya gejolak ekstremisme dan radikalisme, hal itu tidak terjadi di Indonesia. Islam Indonesia atau bisa juga disebut Islam Nusantara dikenal sebagai Islam jalan tengah atau Islam wasathiyah yang mewujud menjadi sikap dan perilaku umat yang toleran dan inklusif. Dalam konteks kenegaraan, kendatipun Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia, Islam tidak lantas dijadikan sebagai agama negara. Oleh karena itu, Islam tidak menjadi bagian dari politik dan kekuasaan (Azra, 2020: hlm. 187).

Berbeda dengan Malaysia yang menjadikan Islam sebagai agama resmi negara dan bagian integral dari kekuasaan. Di Malaysia, hanya agama Islam yang boleh disiarkan di ranah publik. Bahkan penggunaan kata Allah hanya diizinkan untuk umat Muslim. Sementara di Indonesia, semua agama dan kepercayaan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk tampil di hadapan publik. Selain itu, penyebutan nama Allah yang merujuk pada sosok Tuhan juga digunakan oleh dua umat berbeda, yakni umat Muslim dan Kristiani.

Melihat tingginya toleransi dan inklusivitas Islam Indonesia, tidak sedikit kalangan asing yang menaruh harapan besar. Sejak akhir 1980-an misalnya, Guru Besar Universitas Chicago, Fazlur Rahman melihat potensi Islam Indonesia dan saya kira juga umat beragama secara lebih luas bisa berdiri di barisan terdepan, memberikan konstribusinya bagi peradaban dunia yang lebih damai dan harmonis.

Harapan yang disematkan pada umat beragama di Indonesia tidak terlepas dari perjalanan kesejarahan bangsa. Sejak dahulu kala, Indonesia tidak memiliki sejarah kelam perang saudara atau konflik dan perang antar-agama yang bersifat politis-kekuasaan seperti di negara-negara lain. Sikap bangsa Indonesia yang terbuka dan menerima komonalitas dan kebhinekaan menjadi pangkal dari eratnya persaudaraan sebangsa dan lebih luas lagi sebagai sesama manusia.

Hal ini dikukuhkan dalam Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) I945 mencantumkan hak dan kewajiban setiap dan seluruh warga negara Indonesia atas dasar kemanusiaan, kesetaraan hak hidup, hak mendapat keamanan diri, hak membela diri, dan tanggung jawab mewujudkan pertahanan dan perdamaian. Serta kesetaraan hak sekaligus kebebasan memilih agama dan keyakinan.

Peran Strategis Pemerintah

Pancasila dan UUD 1945 merupakan dua konsensus yang menyatukan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan pertama kali diraih. Oleh karena itu, segenap masyarakat Indonesia perlu terus bersinergi mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 dalam bina damai. Dalam hal ini, pemerintah sebagai penyelenggara negara memiliki peran strategis melalui penetapan kebijakan-kebijakan publik yang selaras dengan Pancasila dan UUD 1945, yang mengutamakan terpeliharanya harkat dan martabat seluruh bangsa Indonesia.

Sudah tepat misalnya kebijakan pencantuman kolom penghayat kepercayaan di Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kebijakan itu menjadi bagian dari penghargaan sekaligus pengakuan resmi kepada para penghayat kepercayaan di Indonesia yang jumlahnya tidak sedikit. Kebijakan tersebut juga bisa menepis adanya kecemburuan sosial antara pemeluk agama dan penghayat kepercayaan.

Dalam berbagai survei, Indonesia termasuk salah satu negara paling religius di dunia. Kenyataan ini harus disikapi dengan bijaksana oleh seluruh masyarakat. Sebagai negara kepulauan yang majemuk, stabilitas negara menjadi hal utama yang harus terus dipertahankan. Pasalnya, dalam praktiknya di akar rumput, religiositas bisa menjelma sebagai dua mata pisau sekaligus.

Sebagian umat beragama memaknai religiositasnya dengan keliru, misalnya dengan melakukan penyerangan rumah ibadah agama lain, aksi bom bunuh diri, dan teror-ancaman kepada mereka yang dianggap berbeda dari kelompoknya. Religiositas yang keliru ini ditandai dengan munculnya ekstremisme dan radikalisme yang berujung pada praktik terorisme.

Misalnya tragedi Bom Bali I dan II, Bom Mega Kuningan Jakarta pada 2009 silam, aksi bom bunuh diri yang melibatkan anak-anak di bawah umur yang menyerang sebuah gereja di Surabaya tanun 2018 silam. Termasuk setahun terakhir, aksi bom bunuh diri di beberapa daerah di mana pelaku meledakkan diri di pos atau kantor kepolisian.

Namun, umat beragama yang melakukan aksi kekerasan dan teror tersebut hanya sebagian kecil alias oknum. Sementara mayoritas umat beragama di Indonesia merupakan golongan yang toleran dan inklusif. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus menjaga nyala keberagaman di Indonesia melalui penetapan kebijakan yang toleran dan inklusif pula.

Selain itu, juga dibutuhkan keterlibatan dari unsur keagamaan. Keberadaan ormas keagamaan semacam NU dan Muhammadiyah atau forum lintas iman seperti Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) yang jangkauannya sampai di tingkat daerah memiliki konstribusi besar mengukuhkan kohesi sosial antar-umat beragama sekaligus antar-sesama bangsa Indonesia pada umumnya. 

Andalan

Catatan Merah Kencan dengan Akhi-akhi Intelek yang Easy Going, Jadi Korban Gaslighting hingga Diputusin Tiba-Tiba

Sejak dini, perjalanan asmara saya sudah telanjur lekat dengan akhi-akhi intelektuil. Pacar pertama saya seorang siswa sekaligus santri di sebuah yayasan SMP swasta berbasis keagamaan yang cukup tersohor di kabupaten kami. Meski tidak pandai-pandai amat dibanding kawan-kawannya, waktu itu ia tetap lebih pandai dalam mata pelajaran eksakta dibanding saya. Cum, dia rajin salat wajib dan sunnah. Dua hal ini saja sudah membuatku klepek-klepek sebagai anak gadis baru gede.

Hubungan asmara picisan itu hanya berbilang bulan, persoalannya pacar saya menghilang tiba-tiba dan sebagai gadis waras saya tak mencarinya. Dua atau tiga bulan berikutnya, mantan pacar saya terpergok jalan dengen cewek lain, uniknya saya tidak sakit hati sama sekali. Mungkin karena dari awal kami sama-sama hanya penasaran gimana sih rasanya pacaran.

Putus dari pacar pertama, saya punya ambisi mendapat pacar yang jauh lebih pintar dan berbudi luhur dibanding dia yang pergi tanpa fafifu itu.  Cita-cita itu makbul. Tahun berikutnya, siswa dari sekolah yang sama dengan mantan pacar saya menyatakan perasaannya. Lantaran sebelumnya kami sudah berkawan baik, maka ungkapan perasaannya cepat saja kuiyakan. Soalnya saya sudah tahu dia pintar secara akademik dan mumpuni secara spirituil, setidaknya dibandingkan saya.

Tapi memang nasib sial suka dekat-dekat, setahun kemudian kami putus. Perjuangan sekian bulan menjalani hubungan jarak jauh sebab dia bersekolah di luar kota sontak tak ada harganya. Dia mundur perlahan dari radar komunikasi via telepon dan sms sebelum akhirnya menyatakan keinginannya putus dari saya. Alasannya klise, ia hendak fokus sekolah.

Akibatnya, masa SMA saya jadi suram, tiga buku harian berlapang dada menampung kedukaan sebab putus dari lelaki yang kugadang-gadang bisa saya pacari hingga dewasa (bahkan selamanya). Angan-angan itu bertahan cukup lama lantaran setelah putus, kami masih sempat jalan sebagaimana biasanya. Pelesiran kuliner dan mengunjungi tempat-tempat yang kami sukai, hobi yang sejak mula menyatukan kami. Bahkan saking dalamnya perasaan dan dukacita lantaran cinta sebelum dewasa itu, saya sampai menerbitkan buku berjudul sungguh memalukan; Aku, Kau, dan Cinta Masa Lalu (Jengker, 2012).

Lagi-lagi Ditinggalkan

Di akhir masa SMA, saya sempat dekat dan intens berkomunikasi dengan seorang lelaki dari kota lain. Perkenalan saya dengan lelaki itu dimulai dari tulisan, saat itu kami sama-sama sedang gandrung menulis segala hal. Kami lekas klik lantaran bisa membicarakan banyak hal, buku, tulisan, cita-cita, dan lain sebagainya.

Sebagai gadis kebanyakan halu, saat itu saya menikmati saja masa-masa tanpa pertemuan di mana kami saling menjadi alarm untuk sahur maupun bangun salat malam. Belum lagi, untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan ujian SBMPTN, kami saling berbagi referensi belajar.

Lulus dari SMA, saya kuliah di sebuah perguruan tinggi di Solo. Selama kuliah, saya tidak pernah tertarik dengan lelaki di kampus, tapi justru jatuh cinta pada lelaki dari kampus lain. Perasaan itu bertahan beberapa tahun sebelum akhirnya saya mengetahui hatinya sudah lama dipeluk perempuan lain. Saya kecewa karena sejak dulu tidak berani mencari tahu duduk perkara yang cukup lama membuat saya berada di luar kendali nalar alias jadi bucin.

Setelah semuanya jelas toh hidup saya lebih cerah, meski patah hati tapi saya bisa berpikir dan bertindak lebih realistis. Menghapus nomornya, menyudahi diskusi-diskusi buku yang dulu kami lakukan berdua, mengikhlaskan hubungan yang rentan. Tindakan ini juga berlaku untuk mantan bribikan (gebetan) lain yang sempat menjadikan saya korban gaslighting.  Betapapun di masa lalu kami adalah dua anak muda yang nyambung saat membicarakan banyak hal, melakoni hari-hari seru pelesiran alam hingga mendatangi pengajian.

Lelaki pertama yang saya kenalkan ke keluarga itu terus-terusan menyalahkan saya atas perasaan dan hubungan romantis yang kami lalui. Dia nyaman dengan kebiasaannya jalan dengan sekian perempuan dengan intensitas kedekatan yang entah tanpa menegaskan status hubungan. Sebaliknya, saya tipikal perempuan yang enggan menghabiskan waktu dengan lelaki tidak tegas semacam dia. Saya tak hanya memutus kasih sayang padanya, tapi juga jalinan pertemanan, dan sejauh ini saya tidak menyesal melakukannya.

Teman Lelaki Saya Mengimbau Ini Sejak Lama

Sebenarnya, setiap kali dekat dengan seseorang, saya hampir pasti curhat dengan beberapa kawan lelaki saya. Tujuannya supaya bisa mendapatkan insight dari kaum adam. Dari beberapa teman, ada satu orang yang selalu mewanti-wantiku untuk tidak jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan laki-laki yang hobi banget baca buku atau katakanlah intelek.

Namun, hingga kini saya tak mendapatkan penjelasan memadahi mengapa kawan saya itu melarang hal tersebut. Padahal sebagai makhluk logis yang tak kunjung mengerti arti cinta, hal itu kan perlu penjelasan gamblang.

Alhasil setiap kali gagal merajut kisah kasih dengan akhi-akhi intelek, saya hanya bisa melamun tanpa menghasilkan konsklusi yang memuaskan. Mungkinkah saya hanya sial bertemu oknum akhi yang sikap dan perilakunya tak sebaik ilmu agama yang mereka pahami.

 Atau sebenarnya lebih mudah bagi saya untuk berhasil dalam hubungan asmara dengan para akhi ketika saya tidak hanya cerdas dan enak diajak obrol apapun, tapi juga memiliki paras cantik dan bentuk tubuh ideal sebagaimana yang dikupas tuntas oleh L. Ayu Saraswati dalam buku Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional (Marjin Kiri, 2017).

Serangkaian kegagalan asmara itu jelas membuat saya minder, putus asa, serta mudah berprasangka negatif terhadap setiap lelaki. Hingga pada suatu hari yang beruntung, saya berkesempatan curhat dengan psikolog klinis dewasa dari Yayasan Pulih. Saat itu, ia mengajak saya mempraktikkan sejumlah teknik stabilitasi berkenaan dengan profesi saya sebagai jurnalis. Namun, teknik-teknik itu juga bisa diterapkan pada persoalan pribadi yang lain, tak terkecuali untuk mengenyahkan luka-luka batin sebab rentetan kegagalan asmara di masa lalu.

Hasilnya, tulisan panjang berisi cerita yang selama ini saya anggap sebagai aib yang membebani bisa hadir di hadapan sidang pembaca. Kini, saya menganggap kegagalan asmara beruntun sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup saya, dan saya sanggup melewatinya. Sebelum melesat lebih jauh mengadapi masalah-masalah lain yang jauh lebih pelik. Lagu Secukupnya milik Hindia masih jadi favorit saya. Ambil sedikit tisu, bersedihlah secukupnya!

Andalan

Guru-guru Saya Adalah

Bunga Hening Maulidina, yang kepadanya aku senantiasa ingin bilang terima kasih yang sungguh-sungguh, entah untuk apa. Barangkali untuk semuanya.

Bandung Mawardi, yang belakangan sejak blio tak lagi nampak sebagai seorang berpenampilan “terpaksa” sangar dengan rambut panjang dikuncir dan mata serta kata-kata yang tajam. Menjadi seorang bapak kata berpeci bulat ngepas di kepala yang tiap bertemu sontak membuatku buru-buru salim dan mencium punggung tangannya.

Kepada keduanya, aku masih melulu berupaya puasa kata, demi ambisi membaca laku-laku hidupnya. Aku emoh tercemari kata-kata yang terucap dari mulut baiknya. Supaya ikhtiarku membaca laku jadi beneran khusyuk. Terlibat perbincangan agak panjang lebih sering membuatku takut.

Perbincangan-perbincangan kusadari betul kerap membuatku jumawa, entah untuk apa. Entah apa pula yang membikin diri jumawa. Tapi kureka-reka rasanya begitu selalu. Maka, kupersempit waktu untuk bertemu dengan sekian banyak orang dalam lapangan perbincangan. Kalau-kalau bisa, waktuku lebih banyak untuk merenung sahaja. Membaca buku-buku baik, menyiram dan memandang tanaman di depan kamar, bertukar pandang dengan ikan di dalam kamar, menulis.

Kendatipun begitu, kusadari betul aku belum mendapat bentuk yang pas untuk diriku, untuk hidupku sendiri. Bagaimanapun, keterlibatan dalam Diskusi Kecil Pawon dan belakangan dengan Bentara Muda Solo memaksaku aktif berbicara. Betapapun aku menolaknya. Betapapun kukatakan aku tidak suka berbicara di depan banyak orang. Aku musti melakukan itu.

Ada sungai yang mengalirkan air tahu diri, atawa orang lain bisa sahaja menyebutnya condong kepada sikap rendah diri yang sangat. Bacaan yang tak kunjung bertambah, diri yang begitu terbatas kemampuannya membuat aku yakin aku tidak selaiknya berbicara. Melainkan lebih khusyuk menjadi kaum pembaca, pendengar, penonton. Kurasa hal ini sulit sekali berterima di antara orang-orang di lingkaran hidupku saat ini.

Dari dulu hingga kini problemanya sama. Keterbatasan yang sungguh-sungguh sebaiknya memang lebih pas menempatkan diriku bukan sebagai yang didengar, melainkan yang mendengar.

Ihwal Bunga Hening

Kehati-hatian dalam berbahasa menjadi konsentrasiku dalam membaca laku hidupnya. Belakangan ia makin matang dalam berbahasa, utamanya bahasa Ilahi. Kehati-hatian berbahasa melahirkan sikap waspada, tahu diri, penuh pengertian, juga prasangka baik. Ia telah sampai kepada tahap Ngawula Gusti.

Tanpa kusadari, aku lebih percaya diri sejak mengenalnya bertahun silam. Aku yang sebelumnya banyak sekali omong, perlahan-lahan berpikir untuk mengurangi omong. Betapapun hal ini turut mengikis pula banyak pertemanan. Sebab aku tak lagi memaksakan diri cocok berbincang dengan banyak orang. Aku lebih fokus saja berbicara dengan orang-orang yang kurasa memberi energi baik dalam hidupku yang sungguh singkat. Aku tak lagi berkehendak menyenangkan sekian banyak orang, melainkan berupaya memupuk taman pertemanan yang erat dan sungguh-sungguh sahaja. Yang pertaliannya membawa diri masing-masing pada segala yang baik.

Perkara Bandung Mawardi

Sejak sadar bahwa ialah bapak kata, aku lebih sering menghindar supaya tak bersemuka dengan blio. Aku takut benar entah oleh apa. Baru belakangan ini, kupaksakan agak kuat berhadapan dengan mata tajamnya. Meski tak pernah berminat nyantri di Bilik Literasi toh banyak hal yang dari padanya diam-diam kupelajari.

Blio entah bagaimana mengetahui hampir semua anak muda  yang coba-coba menulis. Baik itu santrinya atawa bukan. Blio dengan mata tajam menantang anak-anak muda yang tulisannya pernah dimuat media untuk melulu menulis. Tantangannya ibarat sabda nabi. Dipikirkannya melulu oleh anak-anak muda di sekitar. Termasuk aku. Yang mulai merasa sakit ketika pikiran emoh kooperatif menyusun kalimat-kalimat berakhir tulisan agak panjang.

Menghindari Perbincangan Panjang

Perbincangan panjang dengan keduanya justru kuhindari. Entah sampai kapan. Aku masih ingin terbentur dengan prasangka-prasangkaku sendiri dalam membaca tiap laku hidup keduanya. Yang kupikir muaranya ialah: kesederhanaan, kesadaran. Tsah!

 

Solo, di antara gelisah dan ketenangan

Dua Iman di Meja Makan

Keriangan mudah menghampiri siapa

yang salatnya bolong-bolong

Menjelma gaji cukup, pekerjaan ringan, jalinan kisah penuh asih

 

Sementara salat dan doa yang penuh seluruh

Diganjar dengan pekerjaan tak riang, gaji belum cukup,

hingga pengkhianatan kisah kasih yang rimbun

 

Dua iman yang rentan jadi tak enak makan

selepas persemuan siang itu

Di meja, praduga diaduk dengan lahap api yang membakar

 

Segelas teh disiram es tiba-tiba datang

Tepat di hadapan dua amin yang rentan

Katanya, keceriaan dunia boleh direngkuh siapa saja

Ia pun jadi soal ujian paling ringan

Bagi salat dan doa-doamu yang tak pernah tulus

(Jogja, 2020)


 

Seolah-olah

Aku menyerah

Setelah kau tuang segala abu

Ke cangkirku yang riak

 

Kesejatian yang kau sebut-sebut

Tak kita temukan di sisi manapun

Termasuk di kesudahan yang masih ranum

 

Di hari berlalu

Menujumu adalah tirani sembrono

yang membuat mataku senantiasa sombong

 

Seolah telah kurengkuh hati yang penuh

Seluruhnya menggamitku menjelang hidup tawaduk

(Jogja, 2020)


 

Halaman yang Hilang

Pita yang tergunting di hari sahaja

Meruyak sekian tokoh yang kita baca di halaman beraroma asin

 

Kau tebas doa-doa lugu yang membumbung

dengan ketajaman yang tak pernah sanggup terbayang

 

Katamu, doa-doa itu cuma kesombongan yang lupa hari

Bukan kesediaan menuju keridaan Ilahi

(Jogja, 2020)


 

Anak Perempuan Terakhir

Waktu memutuskan kembali lebih cepat pada pekerjaan

Aku mengandung segala kepentingan diri yang membakar

Menepikan bakti yang senantiasa diidam-idamkan

Membersamai bapak-ibu yang mengandung rindu

 

Tapi, rumah dalam kalimat panjang

berarti ancaman perdebatan yang tak sebaiknya

Kehidupan anak perempuan terjun bebas

dalam kertas undangan yang tiba lebih cepat

Semua kaki diminta tunduk di jalan lurus tanpa belokan

(Jogja, 2020)


 

Sepanjang Jalan Menuju Pantai

Di setapak jalan yang membelah rerumputan

mata menangkap dua pasang kaki di pedal sepeda

Dua wajah penuh asuh

mengupas senyum di balik topi berwarna kopi

 

Di masing-masing boncengannya

Seikat pohon jagung dan rumput bertubuh tinggi menumpang tidur

Sapi dan kambing di rumah akan menyambutnya dengan ramah

 

Di belokan, aku membayangkan keelokan hari yang demikian megah

Sembari merapal harapan rumpang:

Semoga tak semua anak muda tersesat di tengah kota

(Jogja, 2020)

Teladan Hidup dari Para Perempuan Desa

pexels-photo-4207908.jpeg
Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Pada hari yang biasa, bulik saya tiba-tiba berseloroh di hadapan suaminya. “Ngeneki polahe wong wedok bendino. Makane, suk mben nek meninggal sampeyan sek. Nek ora ngono, suk mben sopo sing arep ngopeni anak-anakmu.” Kalau dialihbahasakan kira-kira demikian, “Beginilah pekerjaan perempuan setiap hari. Jadi, besok kapan kalau meninggal sampeyan dulu. Kalau tidak begitu, siapa yang akan mengurus anak-anakmu kelak.”

Sepintas, pernyataan itu akan membuat siapa pun yang mencuri dengar atau tidak sengaja mendengarnya tertawa alih-alih mengutuk sebagai bentuk kelancangan atau ketidaksopanan istri terhadap suami. Kejadian itu diceritakan ulang oleh nenek kepada saya beberapa hari lalu. Mendengar parodi itu, saya tertawa berderai-derai.

Bulik tinggal persis di samping rumah. Sedikit banyak saya mengetahui sikap dan laku hidup kesehariannya. Ia guru, istri, ibu rumah tangga, sekaligus petani yang tekun. Lebih daripada ibu saya, bulik mendidik anak-anaknya dengan ketegasan yang cukup berarti.

Ketiga sepupu saya tumbuh menjadi anak-anak rajin dan patuh tidak hanya kepada kedua orang tuanya, tetapi juga kepada orang tua pada umumnya. Belum lama ini, ibu meminta tolong kepada sepupu saya untuk mengantar nasi angsul-angsul ke tetangga. Ia menyanggupi tanpa menunjukkan raut muka keberatan. Padahal di lingkungan tempat kami tinggal, pekerjaan mengantar nasi sebenarnya dibebankan kepada anak gadis. Tetapi sepupu laki-laki saya yang sudah akil baligh itu toh melakukannya juga. Menurut ibu, sikap sepupu saya yang demikian itu merupakan buah dari didikan bulik.

Bekerja sepanjang hari

Kalau di kota mempekerjakan pekerja rumah tangga sementara suami dan istri bekerja di luar rumah itu hal lumrah, lain halnya di desa. Mayoritas suami-istri yang bekerja di luar rumah tidak mempekerjakan pekerja rumah tangga. Sang istri sendirilah yang membereskan segala pekerjaan di rumah. Mulai dari menyiapkan kudapan, mencuci baju, menyapu, mencuci piring, dan lain sebagainya.

Bapak dan ibu bekerja di luar rumah semenjak saya kecil. Tetapi mereka tidak pernah mempekerjakan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Ibu yang melakukan semuanya, kadang-kadang dengan bantuan bapak. Begitu juga yang terjadi dengan rumah tangga bulik saya.

Ibu bangun tengah malam untuk shalat, beliau tidak tidur lagi sampai azan Subuh tiba. Demikian juga dengan bapak. Bedanya, setelah Subuh bapak punya waktu untuk bersepeda atau olahraga pagi menyusuri jalan kampung. Sementara ibu harus bergulat di dapur untuk menyiapkan menu sarapan kami.

Karena toko ibu kini ada di depan rumah, maka selesai menyiapkan sarapan ibu langsung memulai pekerjaannya di toko. Selain menjual kebutuhan sehari-hari, toko ibu juga melayani pembelian hasil panen dari orang-orang. Entah itu padi, kacang tanah, kacang hijau, dan lain sebagainya. Jadi, sehari-hari ibu biasa juga mengangkat karung-karung dengan bobot berpuluh-puluh kilo.

Ibu menutup tokonya sekitar pukul 16.00 WIB. Kesibukannya berlanjut dengan membereskan kebun di samping rumah, mulai dari mencabuti rumput, memangkas daun-daun kering di pohon pisang, membakar sampah, dan sebagainya.

Dari kebun, ibu melanjutkan aktivitasnya di dapur. Menyiapkan makan malam untuk kami sekeluarga. Seringkali belum selesai benar pekerjaannya di dapur, azan Magrib sudah berkumandang. Lain halnya dengan saya, ibu terbiasa mandi dengan gegas. Sementara ibu mandi, bapak sudah siap dengan baju koko lengkap dengan sarung dan peci di ruang shalat.

Pekerjaan ibu sembari menunggu azan Isya adalah melipat baju atau membuat minuman hangat untuk bapak. Menurut pengamatan saya, pekerjaan ibu sehari-hari boleh dinyatakan beres benar selepas salat Isya. Waktu itu digunakan ibu untuk berbincang dengan bapak di teras atau menonton acara televisi bersama di ruang tengah.

Melakoni banyak peran

Tak beda dengan ibu, dalam pengamatan saya, bulik pun sama sibuknya sepanjang hari. Hari-hari belakangan sekolah diliburkan karena pandemi, jadi pekerjaan bulik berkurang sebuah. Tetapi pada hari biasanya, ia melakoni setidaknya lima peran sekaligus. Istri, ibu rumah tangga, guru, petani, hingga penjual baju.

Secara garis besar, kesibukan bulik dan ibu sebagai istri dan ibu rumah tangga tidak ada bedanya. Pagi dan malam hari begitu pekerjaan di luar rumah rampung, keduanya bekerja penuh membereskan pekerjaan rumah. Baru ketika dewasa, saya mengamati betul bahwa pekerjaan sebagai istri dan ibu rumah tangga itu sungguh tidak ringan.

Pasalnya saya mulai dilibatkan secara aktif oleh ibu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan di rumah. Minimal ibu meminta (kalau tidak memaksa) saya membersihkan segala perkakas yang saya gunakan untuk keperluan sendiri. Ibu juga tidak lagi membantu menyiapkan barang-barang setiap kali saya hendak berangkat ke tanah rantau. Nahasnya, sejak ibu berlaku demikian, ada saja barang yang tertinggal di rumah dan baru saya ingat begitu sudah di dalam bus menuju perantauan.

Ibu juga hafal saya punya bekas luka atau jerawat di bagian mana saja. Jadi kalau ada luka tambahan, beliau sontak akan menanyakannya. Dari segala peran yang dilakoni ibu dan bulik saya di rumah, saya sering geleng-geleng kepala. Betapa sibuk pekerjaan para perempuan desa pada umumnya, batin saya tak habis-habis.

Feminis yang sesungguhnya

Feminisme atau kesetaraan (antara laki-laki dan perempuan), dalam sedikit pengetahuan saya tampak begitu kuat memancar dari keseharian hidup para perempuan di desa. Para perempuan berperan aktif menafkahi keluarga antara lain dengan berjualan di pasar, membuka toko kelontong, mengolah sawah dan lahan perkebunan, dan lain-lain. Di lingkungan saya, justru banyak sekali perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Sementara para suami berperan sebagai bapak rumah tangga.

Mereka melakoni hari-hari riang berkecukupan tanpa banyak berdebat apa itu feminisme. Bagian itu biar menjadi urusan orang terpelajar atau orang-orang di kota. Kira-kira begitu penerjemahan saya saat menghadapi dua halaman berbeda, desa tempat saya lahir dan kota tempat saya menempuh pendidikan dan kemudian belajar bekerja.

Para perempuan di desa melakoni beragam peran publik sekaligus privat sebagai panggilan jiwa. Melampaui tuntutan-tuntutan emosional menyaksikan betapa timpangnya pembagian kerja antara perempuan dan laik-laki dalam sebuah rumah tangga. Para perempuan melakoni hari-hari sibuk dengan—meminjam sajak Jokpin—amin yang semoga aman. Tsah!

Parcel

emping, kacang kupas, sirup rasa hujan, kukis, biskuit tanpa bapak

berbaris dalam kardus mi instan

 

berhari raya dengan sopan

(Bojonegoro, 2020)


 

Buku Serakah

buku-buku ditebus dengan mata serakah

seolah kebaikan mutlak ada padanya

 

begitu sampai rumah

buku-buku itu menjelma kesombongan tak terelakkan

 

di hadapan daun-daun cemara yang luntur di halaman

di samping sapu lidi yang menganggur

(Bojonegoro, 2020)


 

Kresak

di kebun

ibu tampak kompeten mematah daun-daun pisang yang sudah kering

 

waktu istirah sebentar

kucoba meraih gantar berujung tajam

menirukan ibu

 

satu jam berlalu

daun kering yang melepas dirinya ke tanah basah tak sanggup memenuhi hitungan jari

 

“daun itu sudah selesai masa hidupnya. kita tanggalkan supaya pohon pisang ini bisa hidup lebih hijau. sama seperti kesedihan. perasaan-perasaan itu harus dipupus supaya hidup jadi lebih segar”, kata ibu

(Bojonegoro, 2020)


 

Kunci Hidup yang Sulit

: quraish shihab

angka-angka dalam timbangan

tidak pernah cukup menakar hidup yang maruk

 

selalu ada lubang dalam dosis obat paling ringan

 

saat hidup cuma terdiri dari dua kata

tulus dan ikhlas

 

keduanya tampak sederhana

tetapi kesusahan memberlakukannya senantiasa menjadi-jadi setiap hari

(Bojonegoro, 2020)


 

Tulisan yang Sombong

tulisan-tulisan merasa naik derajat

di antara kutipan dan amatan mata telanjang dan halus perasaan

namun semakin tidak sesuai dengan pesanan zaman

 

bolak-balik diperiksanya amplop dalam layar

dan tak ia temui getar yang sama lagi

 

kecuali nasihat hujan yang terus menggelayuti

“penulis tidak pernah tergesa-gesa mempublikasikan karyanya yang belum matang”

(Bojonegoro, 2020)

Siang Hari di Bulan Ramadan

 

aku boleh mengantuk

dan tidur seluas cita-cita

saat ibu ramban daun ketela atau bayam di kebun samping rumah

untuk disulap jadi kudangan bercita rasa asam atau berwarna kemangi

(Bojonegoro, 2020)


 

Tadarus

anak-anak berlompatan

di tangga ayat suci

di atas bangku kecil di musala

 

sejak pagi berubah siang berubah sore

mikrofon musala tak mengantuk

 

bosan dan lapar tidak pernah mampir dalam kamus pamrih anak-anak

bermain huruf hijaiyah adalah hormat

pada ibu bapak yang tidak menukar beras hasil panen

jadi sebilah papan bisu yang rakus

(Bojonegoro, 2020)


 

Ibu Setiap Hari

di rumah

gadget cuma punya sedikit waktu

 

lebih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan

lebih dari sekadar bergulat dalam pikiran

 

ibu mengalami keseharian sebagai mata pisau

yang runcing mengiris

segala ketidakberesan di tiap sudut rumah

 

istirahnya jadi yang paling hening

dan tak pamrih pada segala iming-iming

(Bojonegoro, 2020)


 

Pulang yang Menyenangkan

setelah tidak mendebat segala hal

rumah jadi kekasih paling menenangkan

 

perjalanan diri memuat segala yang khidmat

banyak bicara tak selalu sama artinya dengan memahami banyak hal

 

setelah pengertian yang serupa angin

seruan segala sunnah yang disepadankan dengan kewajiban ibadah

menjadi pelajaran sami’na wa atho’na yang tabah

(Bojonegoro, 2020)


 

Selingan

buku dan film hanya istirah

dari daftar pekerjaan rumah

 

melakukan sebagian kecil dari daftar panjang itu

membuatku tak henti-henti memohon panjangnya umur ibu

barangkali lebih panjang dari umurku

 

kelengahan sering hinggap pada kelopak mataku

tapi tidak pada mata ibu

(Bojonegoro, 2020)

Pageblug

Pintu mengandung rindu yang tak tuntas

Pada pasrah wajah ibu

dan bicara bapak yang irit

 

Di perjamuan makan yang senantiasa hangat

Ada kenang-kenangan rimbun daun singkong

di halaman rumah

(Jogja, 2020)


 

Tak Ada Istirah

                : para petugas medis

Banyak amin yang semoga aman

dalam malam-malam terang

yang membuat matamu tak sempat padam

 

Pada balutan hazmat

Pagi datang lebih cepat

lebih putih

lebih asih

(Jogja, 2020)


 

Jahe di Depan Rumah

Wedang jahe mengetuk pintu tetangga

sebagai salam paling rendah hati

saat empon-empon tak terbeli

 

Jahe itu merah rimpangnya

Ditanam dan diasuh oleh orang tua Fuko

yang sedang khidmat mengeja

ketahanan pangan di kota

(Jogja, 2020)


 

Makanan Kesukaan

Harum buah nangka

dan potongan-potongan apel dengan manis yang cukup

terselip dalam lipatan selamat tidur

 

Tempat paling tak rentan

untuk mengheningkan puisi

dari bayang-bayang hari jelang

(Jogja, 2020)


 

Rumah Putih

“Tidak semua orang harus berpikir rumit,

sebagaimana kamu,”

kata Pak Guru pada suatu senyum.

(Jogja, 2020)


 

Nasihat Cinta yang Jauh

: buat haha dan adik kecil di Kalasan

Usaha-usaha logis dijemput

Bersama dengan doa-doa

yang memanjangkan detak sujud

 

Di antara keduanya

sekian kemungkinan sempat terbaca

tapi ternyata bukan cinta

barangkali ketergesa-gesaan

 

Hati yang penuh seluruh

apatah harus melintasi sekian titian

atau tidak perlu sama sekali

kita sama-sama tidak mengerti

 

Tapi ketika cinta datang

tak ada satu pun peristiwa yang khianat

segala hari yang menghampar adalah pancaran Keilahian

(Jogja, 2020)

Rabu Malam di Masjid

Mataku pengetahuan kosong

yang duduk di barisan depan

dengan pamrih paling utuh

 

Pemaparan yang rimbun

ingin direguk sebagai pemahaman

meski tanpa bekal

 

Pak guru mengerti

Anak-anak tidak cukup membawa bacaan atau kenang-kenangan

dari mata pelajaran sejarah

 

Malam itu, beliau menggenapi sang dewi

yang mendengkur di lipatan sungsang pengetahuan kami

(Jogja, 2020)


 

Setelah Gerimis Kecil

Hujan menyirami hati Jogja yang penuh

kangen

jadi kuyup sekaligus adem

 

Hatimu sekotak ubi ungu

yang berangsur hangat

berkat teh atau kopi susu

di ambang pintu

(Jogja, 2020)


 

Malam Kuning

wolupapat

Empat kalimat beradu

makan batagor dengan porsi paling kenyang

yang tidak pernah terasa pedas karena sambal berpeluh air

 

Di meja, ada keripik jagung

yang renyah seperti pertemuan pertama

dan obrolan-obrolan minum

 

Pisang datang dari Klaten

bersisipan dengan ikan asap dan terong goreng

 

Dalam doa-doa kecil di dapur

bawang merah dan cabai tidak pernah berarti amarah

(Jogja, 2020)


 

Minggu Pagi di Kalasan

Di Kalasan, minggu beraroma sejuk

dan ramah

 

Futuhat digelar di antara dua salat

Menabur doa agar manusia tak menabung rugi

(Jogja, 2020)

Menghidupi Kematian

flowers-marguerites-destroyed-dead.jpg
Photo by Gratisography on Pexels.com

Setahun yang lalu, sore terjadi di Bilik Literasi dengan hangat berkat teh dan gorengan. Empat gadis menyimak ceritera bapak-guru Kabut (Bandung Mawardi). Tentang keseruan menafakuri buku-buku, tersirap oleh frasa-frasa yang sering tak terpikirkan, mengingat-mengagumi sekian tokoh-penulis yang tekun berpikir dan sabar sampai akhir hayatnya, termasuk tak lupa memperkarakan asmara. Konon, keempat gadis itu sedang dalam masa-masa mekar mengalami gejolak asmara. Keempat gadis itu ialah Qibtiyatul Maisaroh, Mutimmatun Nadhifah, Na’imatur Rofiqoh, dan saya. Itulah pertemuan pertama saya sekaligus pungkasan dengan Qibti. 20 September lalu, Qibti pamit menuju Tuhan.

Saya tak mengenal Qibti sebaik kawan-kawan yang aktif sinau di Bilik Literasi. Dari luar, saya mengenal Qibti sebagai esais yang tekun dan sungguh-sungguh. Kegemarannya sinau di Bilik Literasi membentuk dirinya sebagai pembaca sekaligus penulis yang kuat. Sekian esai dan resensinya dimuat di ragam media. Ia juga kerap menulis buku bersama kawan-kawannya, misalnya Serbu! (Bilik Literasi, 2017) dan Penimba Bahasa (Bilik Literasi, 2018). Tahun 2017, persma tempat saya berkecimpung dengan gegas dan mantap mendaulat Qibti sebagai moderator dalam acara bedah buku Mahfud Ikhwan, Aku dan Film India Melawan Dunia (EA Books, 2017). Qibti ialah penggemar film-film India yang militan dan agak susah ditandingi kawan-kawannya.

Pamitnya para pemikir muda

Qibti menambah daftar dalam ingatan dan pembacaanku sebagai sosok pemikir-penulis yang mati muda. Dua tahun silam, M. Irkham Abdussalam, esais yang saya kenal melalui tulisan-tulisannya (tentu baru sebagian kecil) dikabarkan meninggal dalam suatu kecelakaan lalu lintas. Pertautan saya dengan Qibti dan Irkham lebih kepada pembacaan saya terhadap tulisan-tulisan mereka di media, daripada perkenalan diri sebagai personal. Sama halnya dengan Qibti, saya bertemu Irkham hanya satu kali. Saat itu kami sama-sama sebagai peserta workshop menulis esai sehari di Balai Soedjatmoko Solo.

Qibti dan Irkham tidak bisa tidak memanggil ingatan saya terhadap sosok Ahmad Wahib. Wahib ialah pemikir-penulis yang sangat kritis bahkan yang paling sering ialah terhadap keberadaan diri dan pikiran-pikirannya sendiri. Wahib meninggal karena tertabrak sepeda motor, sepulangnya ia dari kantor Tempo. Saat itu Wahib ialah jurnalis muda di sana. Pemikiran-pemikiran Wahib yang dikenal jujur dan tanpa tedeng aling-aling terutama soal agama dan keberagamaan masih bisa kita jumpai dalam buku hariannya, Pergolakan Pemikiran Islam (LP3ES).

Sosok Wahib kiranya tercermin dari kutipan berikut ini. “Aku bukan Hatta, bukan Soekarno, bukan Sjahrir, bukan Natsir, bukan Mark dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan… aku bukan Wahib”. Ia memberi pernyataan lanjutan, “Aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus menerus berproses menjadi aku” (Pergolakan Pemikiran Islam, hlm. 55). Sampai saat ini, saya yakin, buku harian Wahib itu turut memantik keberanian dalam diri sekian pemikir-penulis muda yang sedang tertatih-tatih mengenali konsep dirinya sendiri, sebelum menggauli dan merenungkan lingkungan dan hal-hal yang lebih luas lagi.

Ingatan kita misalnya merembet ke sosok yang lain lagi. Pemikir-penulis muda yang juga mewariskan kepada kita Catatan Seorang Demonstran (LP3ES). Ialah adik kandung Arief Budiman, siapa lagi kalau bukan Soe Hok Gie. Konon catatan-catatan yang kemudian terbit sebagai buku berjudul Catatan Seorang Demonstran sudah ditulis Gie sejak usianya lima belas tahun, usia yang tergolong belia untuk mulai menyadari perlunya mendokumentasikan pikiran melalui tulisan. Menurut pengisahan Daniel Dhakidae, Soe Hok Gie menulis catatan hariannya dua kali dalam sehari, di pagi hari dan malam hari menjelang berangkat tidur (Catatan Seorang Demonstran, hlm. 4).

Gie mencatat segala kegelisahan, kemurungan, kemarahannya terhadap para penguasa. Termasuk kemudian kepada teman-teman seperjuangannya yang mulai berkhianat dari tujuan mula-mula; banyak di antara mereka yang ongkang-ongkang kaki menikmati segala fasilitas begitu masuk ke dalam sistem kekuasaan. Kita tentu telah begitu karib dengan kisah Gie yang mengirimkan gincu dan sekian alat kecantikan kepada kawan-kawannya yang sudah duduk di kursi pemerintahan, tujuannya guna meledek mereka yang makin pandai memanipulasi diri, melipir atau malah berlari kencang dari kejujuran memperjuangkan harkat dan martabat masyarakat sipil Indonesia. Pada 20 November 1969 Gie menulis, “Rupanya perasaan Henk dan saya sama dalam arti kata bermuakan terhadap teman-teman kita yang telah menyalahgunakan kedudukannya…” (Ibid., hlm. 345).

Gie memang lebih dikenal kaum muda sebagai sosok pemikir-aktivis nasionalis yang nekat dan pemberani. Tetapi saya lebih terkesan dengan pribadi Gie yang lain, saat Gie menuliskan kehidupannya yang paling personal dengan bahasa yang lugu dan cenderung tidak heroik. Mari kita kutip dengan agak panjang catatan harian yang ditulisnya pada Sabtu 15 November 1969. “… Saya ke Ernst dan mendapat buku How to avoid matrimony, lalu nonton filem Rampaje di Menteng. Pulangnya makan soto dan ngobrol-ngobrol tentang tujuan hidup, dari manusia yang tidak jelas. Saya merasa ‘mesra’ dengan malam dan perasaan kosong yang ada pada waktu itu. Dan dalam keadaan seperti ini, kita melihat kembali waktu dan dunia yang lain dari hidup manusia. Dan kita menyadari hidup yang kosong ini dan pada kitalah hidup ini kita tempa sendiri” (Ibid., hlm. 343).

Pada Wahib, Gie, Qibti, dan Irkham—meminjam sajak Goenawan Mohamad, “Hari hanya satu narasi, Tuhan menamainya kematian” (Divapress, 2019: 149). Tsah!